Suara tawa kami bercampur dengan suara tetesan air hujan yang turun. Di bawah pohon ringin besar itu kami berteduh dan bercanda dengan bermandikan air hujan yang menyelinap di sela- sela daun beringin itu. "hujan nya ng' selesai-selesai" suara lembut itu membuat hatiku bergetar. Ido, nama dari laki-laki yang memiliki tubuh ideal itu dan berwajah tampan. Pokoknya ido is perfect human in the world for me, "Monic, kamu kedinginan?" ucap Ido membuyarkan lamunanku tentang dia. "ehm,,,, ng' aq ng' papa koq" jawabku gugup setengah kaget. "ini pakai jaketku, setidaknya sedikit membuatmu lebih baik" sembari memberikan jaket merah kesukaannya. Tanpa basa-basipun aku mengambil dan memakainya "Ido, thanks ya kamu perhatian banget" ucapku "iya sama-sama, sudah sewajarnyakan aku menjagamu, karena kau sahabatku paling manja" jawab Ido dengan lembut. Ido kembali menatap tetesan air hujan yang turun dari sela-sela daun beringin yang lebat itu. "Ido, kamu benar-benar cakep. Aku menyukaimu Ido, I LOVE YOU" ucap ku lirih berbisik. "kamu menyukaiku" tanya Ido mengagetkanku lagi. ternyata dia mendengar ucapanku, katanya membuatku salah tingkah dan bingung menjawab. "Ido, hujannya sudah mulai berhenti, ayo kita pulang nanti hujan lagi" kataku spontan. kami pun berlarian mencoba menghindari sisa tetesan air hujan yang turun.
***
Sesampai di rumah aku langsung mandi dan tiduran di kamar mebayangkan kejadian tadi,"pasti tadi ekspresi wajahku lucu banget ya,,,,!!!" gumamku menginat kejadian tadi bersama Ido. "Monic,,, ayo makan dulu nanti sakit" teriak mamah membuyarkan lamunanku. "iya ma bentar lagi Monic turun"jawabku seraya bangun dari tempat tidur dan langsung menuju meja makan. "kayaknya kamu hari ini seneng banget kenapa saya?"tanya mama bingung karena aku masih saja senyum-senyum ndak jelas."ndak papa kok ma, hari ini Monic cuma lagi seneng aja"sambil mengambil nasi dan lauk. "habis ini kamu ngapain Mon?" tanya mama lagi "mau belajar ma, habis itu langsung tidur Monic capek banget hari ini" jawabku. (***Makan***). "mama Monic langsung ke atas dulu aja ya,,,," ucapku sembari meninggalkan meja makan "iya sayang good luck ya". Rasanya aq mulai jatuh cinta pada Ido, "Masa sih aku suka sama sahabatku sendiri? apa boleh seperti itu ya dalam hukum persahabatan? ntar kalo putus pertemanan kita bisa rusak nanti, haduh koq jadi bingung kayak gini sih" kataku pada cermin di kamar sambil menggaruk kepala yang tak gatal karena bingung. "ayolah Monic belajar, belajar, belajar. jangan pikirin Ido terus donk" batinku masih bingung.
***
"Monic, kamu nggak papakan hujan-hujan kemaren?"tanya Ido sambil berlari mengejarku yang baru berjalan menyusuri koridor sekolah dan menuju kelas. "oh itu, aku nggak papa kok tenang aja" jawabku sambil menatap wajah tampan yang selalu menjadi tamu dipikiranku. "bener kamu nggak kenapa-kenapa? oh iya, gimana tentang ucapanmu di bawah pohon beringin kemaren? apa kamu serius?" ucap Ido membuat wajahku menjadi pucat pasi. "hm,,, anu, emangnya kemaren aku ngomong apa?" tanyaku kembali, berpura-pira lupa dengan kejadian kemaren. "sudahlah kamu jujur aja, nggak usah bohong" desak Ido padaku. "Udahlah kenapa tanya kayak gitu lagian itu juga ndak penting. Tuh udah ada Bu Maryam"jawab ku sekenanya.
***
Kriiiiiing... bel pulang sekolah sudah terdengar. "Monic, aku pengen ngajak kamu pergi ke toko buku, sekalian jalan-jalan gimana mau nggak?""boleh juga. ide bagus tuh kayaknya"jawabku senang. Aku dan Ido pun menghilang menuju toko buku dekat taman kota yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku, setelah beberapa menit memutari toko buku itu akhirnya Ido menemukan buku yang diinginkannya. "Kita mampir ke taman dulu yuk, sambil beli ice cream, aku yang traktir dech mau?" tanya ido. "wah mau banget tuh,,," ucapku girang. "berarti aku bisa berlama-lama dan memandang puas wajah Ido yang sudah menyihirku" gumamku dalam hati. di sana kami berceritaa tentang sesuatu ynag bisa membuat kami tertawa sampai akhirnya aku berhenti tertawa saat Ido berkata "bener kamu nggak ingin cerita tentang kejadian kemaren?" langsung aku terdiam. rasanya hati ini pengen bercerita tapi lidahku kelu untuk mengucapkan semua itu. "Monic berceritalah, sebelum kamu menyesal dengan apa yag akan terjadi diantara kita nanti" ucap ido . "maksud kamu aku menyesal dan yang terjadi diantara kita apa Do?aku nggak maksud" tanyaku pada Ido bingung. "Nggak papa kok, nggak usah dipikirin. Ayo kita pulang saja hari sudah hampir malam" ajak ido sembari menarik tanganku. tapi dalam hatiku masih bingung dengan ucapan Ido tadi. Apa dia akan pindah sekolah? tapi kan kita sudah hampir lulus. Aku jadi semakin penasaran dan pasti ada yang Ido sembunyikan dari aku.
***
Malam itu berlalu dengan rasa penuh tanya dan tak ada secuil senyum dari wajahku terlihat. Rasanya itu malam yang sangat sunyi. Dan aku tidurpun masih berselimtu sejuta pertanyaan Ido yang masih membuatku penasaran.
***
Aku berjalan menuju koridor kelas sendirian dan dalam hati kecilku bertanya "kemana si Ido, kok dia nggak kelihatan batang hidungnya. Apa dia sakit ya? tapi kok dia nggak sms atau telpon aku?". ketika sampai di kelas aku pun duduk tapi mata ku berkeliling memutari sudut-sudut kelas mencari sosok lelaki pujaan. "Baiklah anak-anak kita akan belajar bentuk sederhana Aljabar" ucap seorang guru mengagetkanku. "tapi sebelumnya, ada kabar duka anak-anak. Teman kalian Ido..." kata Bu Nina sambil menangis. Membuatku panik dan penasaran ada apa dengan Ido sebenarnya. "Dia, dia meninggal tadi pagi saat hendak berangkat sekolah. tiba-tiba kanker otak yang sudah lama dia miliki merenggut nyawanya pagi ini" lanjut Bu Nina. "Tidak mungkin, semua itu tidak mungkinkan bu? Ibu bohongkan?" tanyaku pada Bu Nina sambil mengeluarkan air mata yang begitu deras dan tidak percaya. Aku pun berlari meninggalkan kelas dan langsung pergi ke rumah Ido untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Ido. Duarr... Derrr rasanya hatiku tersambar petir dan jantungku berhenti berdetak melihat apa yang terjadi di rumah Ido. Rumah itu penuh dengan orang berpakaian Hitam sambil meneteskan air mata. Aku melihat ayah dan ibu Ido menangis tersedu-sedu. Melihat semua itu membuat hatiku semakin tak percaya. "Ido, kenapa kamu pergi meninggalkanku, kenapa kamu tak pernah bercerita padaku soal sakit yang kamu idap?" ucapku sendiri dengan linangan air mata membahsahi pipi da seragam SMU yang aku kenakan sembari mendekati kedua orang tua Ido. "om, tante apa yang sebenarnya terjadi tante?" tanya ku pada kedua orang tua Ido yang masih menangis sedih. "Ido, pergi meninggalkan kita nak. Dia meninggal tadi pagi" jawab ibu Ido dengan kata yang terbata-bata. Duerrrr.... kali ini rasanya jantungku benar-benar berhenti mendengar perkataan Ibu Ido tadi. "Sebelum dia berangkat sekolah dia sempat menitipkan surat ini untuk mu Mon, , bacalah" kata Ibu Ido seraya memberikan surat berwarna merah muda. Aku pun langsung membaca surat itu di sana:
Dear: My Little Angel in My Life
Monic, sebelumnya aku ingin minta maaf padamu. Mungkin aku memang lelaki pengecut yang tidak berani mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang selama ini aku sembunyikan padamu. Tapi tenang saja, hari ini kamu akan mengetahui semua. Dan yang membuat kamu menagis hari ini. Aku tahu kamu pasti merasa sangat kecewa padaku. Aku nggak ingin membuat kamu sedih Monic, jadi aku nggak cerita kalau selama ini aku mengidap kanker otak sejak aku kelas 3 SMP dulu. Aku tahu kalau kamu sebenarnya menyukaiku, makanya nggak ingin melihatmu sedih dan merasa terbebani oleh penyakitku ini. Aku takut kamu meninggalkanku. Aku takut jauh darimu. Karena aku juga menyukaimu. Aku sempat berputus asa saat aku tahu aku mengidap penyakit kanker otak yang terus menggerogoti jiwa ku. Tapi rasa putus asaku hilang saat aku bertemu denganmu. Kau bagaikan malaikat kecil dalam hatiku yang selalu membuatku semangat menjalani hidup dan membuatku lupa dengan penyakit yang telah aku idap ini. Kau benar-benar menjadi My Little angel, kau yang sudah membuatku bertahan selama ini. Tapi apa daya Tuhan berkehendak lain. Dia telah memanggilku terlalu cepat sebelum aku sempat mengatakan bahwa aku juga mencintaimu. Tapi tak apa, aku yakin kamu masih bisa mendapatkan laki-laki lain yang jauh lebih sempurna dariku. Tapi aku ingin kamu tahu satu hal sampai mati pun aku akan tetap mencintaimu My Little angel. Dan tak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Dan aku sudah merasa puas melihat senyum indah di wajahmu kemarin di taman.
I LOVE YOU My Little angel. You always in My Heart Forever. Because You are the One in the world.
I hope you can have fun without me.
Air mataku semakin deras membasahi pipiku. Aku benar-benar merasa menyesal tak mau berkata jujur seperti apa yang dikatakan Ido kemarin di taman. "Apa yang harus aku lakukan Do. aku menyesal" ucapku aku pun masuk ke dalam rumah untuk melihat wajah tampan Ido untuk terakhir kalinya dan aku berbisik tepat di telinga Ido You are My Prince Ido. I LOVE YOU TOO My Prince. Lalu aku mencium kening Ido dengan Penuh rasa sayang yang sakit karena ditinggalkan. Setelah itu aku langsung berlari dan menuju rumah aku ingin menangis seharian. Rasanya aku benar-benar benci dengan diriku. Ido.... I LOVE YOU
Pesan:
Ungkapkan apa yang ada dalam hatimu sebelum kamu menyesal kelak. Karena hidup seseorang tak ada yang tahu. Dan jangan sampai kau menyesali dengan apa yang kamu pilih. Kalau kamu memang cinta pada seseorang katakanlah, sebelum semuanya terlanjur dan berujung penyesalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar